ordina.id

Berita Panas

28.3°C
  • Jakarta
Juni 15, 2026
Ikuti Kami:
ordina.idBlogJambiSarjana Pertama di Keluarga, Roland Pramudiansyah, S.H. Siap Mengabdikan Diri Untuk Tanah Kelahiran

Sarjana Pertama di Keluarga, Roland Pramudiansyah, S.H. Siap Mengabdikan Diri Untuk Tanah Kelahiran

Jambi, 3 Juni 2026 — Pada akhirnya, setiap perjalanan akan sampai pada satu titik yang membuat seseorang menoleh ke belakang dan mengingat dari mana semuanya bermula.

Hari ini, Roland Pramudiansyah resmi menyandang gelar Sarjana Hukum (S.H.) setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Jambi.

Bagi sebagian orang, kelulusan adalah capaian akademik. Namun bagi Roland, momen ini adalah bentuk penghormatan kepada dua orang yang telah mengajarkannya arti perjuangan sejak kecil kepada ayah dan ibunya.

Roland merupakan putra pertama dari tiga bersaudara, pasangan Budi Ansyah dan Ema Malini. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang tidak mewariskan kemewahan, tetapi mewariskan nilai yang jauh lebih penting yaitu kejujuran, kerja keras, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan.

Sebagai anak pertama, Roland tumbuh dengan kesadaran bahwa harapan orang tua sering kali disimpan dalam diam. Tidak selalu diucapkan, tetapi selalu diperjuangkan.

Di balik setiap langkah pendidikannya, terdapat pengorbanan seorang ayah yang bekerja sebagai buruh lepas dan seorang ibu yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk keluarga.

Sejak kecil, Roland hidup dengan kondisi keterbatasan fisik; bibir sumbing. Ia pernah menghadapi ejekan, keraguan, dan berbagai penilaian yang lahir dari penampilan fisik semata. Namun pengalaman tersebut justru mengajarkannya bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh bagaimana ia dilihat orang lain, melainkan oleh bagaimana ia membangun dirinya sendiri.

Keyakinan itu terus ia pegang hingga berhasil diterima di Fakultas Hukum Universitas Jambi melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2021.

Perjalanan kuliah yang dijalaninya tidak selalu mudah. Ada masa ketika ia harus berjalan kaki menuju kampus. Ada masa ketika ia memanfaatkan libur semester untuk bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan. Namun keadaan tersebut tidak pernah mengurangi semangatnya untuk terus belajar.

Di lingkungan kampus, Roland memilih untuk tidak hanya menjadi mahasiswa yang mengejar kelulusan. Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI), tempat ia belajar tentang kepemimpinan, pengabdian, advokasi, dan tanggung jawab sosial.

Perjalanan organisasi itu membawanya dipercaya menjadi Ketua PERMAHI Cabang Jambi serta terlibat dalam kepengurusan tingkat nasional. Berbagai forum diskusi, advokasi masyarakat, kajian kebijakan, dan aktivitas sosial menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk cara pandangnya terhadap hukum dan kehidupan.
Bagi Roland, kampus tidak hanya memberinya gelar.

Kampus memberinya kesempatan untuk bertemu banyak orang, memahami berbagai persoalan masyarakat, dan belajar bahwa ilmu pengetahuan menemukan maknanya ketika digunakan untuk memberi manfaat kepada sesama.
Hari ini, ketika perjalanan sarjananya telah selesai, ada satu hal yang paling ingin ia sampaikan.

Bahwa gelar ini bukanlah miliknya seorang.

Gelar ini adalah milik ayahnya yang tidak pernah berhenti bekerja meski keadaan tidak selalu mudah. Gelar ini adalah milik ibunya yang tidak pernah berhenti mendoakan. Gelar ini adalah milik keluarga, kolega, dan kerabat dekatnya.

Dan gelar ini juga merupakan persembahan untuk Kabupaten Sarolangun, tanah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

“Saya percaya setiap anak daerah memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi besar. Saya lahir dan tumbuh di Sarolangun. Karena itu, apa pun yang saya capai hari ini, saya ingin menjadikannya sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua saya dan sebagai pengingat bahwa anak-anak dari daerah juga mampu bersaing, berkarya, dan memberi kontribusi bagi bangsa,” ujar Roland.

Menjadi sarjana pertama dalam keluarga bukanlah akhir dari perjalanan. Justru dari titik inilah tanggung jawab yang lebih besar dimulai.

Sebab pendidikan yang baik tidak hanya ditandai dengan gelar yang berhasil diraih, tetapi juga dengan sejauh mana ilmu tersebut dapat kembali memberi manfaat bagi masyarakat.

Hari ini, seorang anak dari keluarga sederhana berhasil menyelesaikan pendidikan hukumnya. Bukan untuk meninggalkan tempat ia berasal.

Melainkan untuk kembali membawa manfaat bagi orang-orang yang telah membesarkannya.

“Gelar ini saya persembahkan untuk ayah dan ibu. Untuk setiap doa yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Untuk setiap pengorbanan yang sering kali tidak terlihat. Dan untuk Sarolangun, tanah yang mengajarkan saya bahwa mimpi besar bisa lahir dari tempat yang sederhana.”

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post