Ketua PERMAHI Jambi bersama Firman Jaya Daeli Kunjungi Candi Muaro Jambi, Tegaskan Pentingnya Menjaga Warisan Peradaban Bangsa
MUARO JAMBI – Ketua DPC Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Jambi, Rolan Pramudiansyah, bersama tokoh nasional sekaligus Alumni PERMAHI, Firman Jaya Daeli, melakukan kunjungan di Situs Cagar Budaya Nasional Candi Muaro Jambi, Jumat (19/6).
Kunjungan tersebut turut didampingi oleh sosok yang akrab disapa Pakcik, seorang pemerhati sejarah dan budaya yang merupakan pensiunan Departemen Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam kesempatan itu, Pakcik menjelaskan berbagai catatan sejarah mengenai kejayaan Candi Muaro Jambi sebagai salah satu pusat pendidikan, keagamaan, dan peradaban terbesar di Asia Tenggara pada masanya.
Kehadiran Firman Jaya Daeli dalam kunjungan tersebut menjadi perhatian tersendiri. Bagi kalangan hukum, politik, dan aktivis nasional, nama Firman Jaya Daeli bukanlah sosok biasa. Ia merupakan salah satu tokoh nasional yang memiliki rekam jejak panjang dalam perjalanan demokrasi, pembangunan hukum, dan penguatan kelembagaan negara di Indonesia.
Firman Jaya Daeli dikenal sebagai mantan anggota DPR RI dan MPR RI yang membidangi urusan politik, hukum, dan keamanan. Dalam kiprahnya di parlemen, ia terlibat dalam berbagai proses pembentukan regulasi strategis nasional, termasuk menjadi bagian dari proses perumusan dan pembahasan sejumlah undang-undang penting seperti Undang-Undang Kepolisian, Undang-Undang Kejaksaan, Undang-Undang Pertahanan Negara, Undang-Undang Pemerintahan Daerah, serta berbagai kebijakan strategis lainnya di bidang hukum dan ketatanegaraan. Ia juga dikenal aktif mendorong penguatan agenda reformasi hukum dan demokrasi di Indonesia.
Selain dikenal sebagai politisi dan negarawan, Firman Jaya Daeli juga merupakan salah satu tokoh alumni PERMAHI yang hingga kini konsisten membangun ruang dialog kebangsaan, hukum, demokrasi, dan konstitusi bersama generasi muda Indonesia. Dalam berbagai forum nasional, ia kerap menegaskan pentingnya mahasiswa hukum menjadi penjaga demokrasi, konstitusi, dan nilai-nilai kebangsaan.
Di tengah kawasan Candi Muaro Jambi yang sarat nilai sejarah, Firman menyampaikan bahwa bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan politik, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga memori kolektif dan peradaban.
“Peradaban besar selalu lahir dari kemampuan suatu bangsa menghormati sejarahnya. Karena itu, Candi Muaro Jambi bukan hanya milik masyarakat Jambi, tetapi bagian dari warisan peradaban Indonesia yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPC PERMAHI Jambi, Rolan Pramudiansyah, mengatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran sejarah dan kebangsaan di kalangan generasi muda.
Menurut Rolan, Candi Muaro Jambi membuktikan bahwa Jambi pernah menjadi salah satu pusat peradaban besar Nusantara yang memiliki pengaruh hingga tingkat internasional. Oleh sebab itu, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan memperkenalkan warisan tersebut kepada dunia.
“Kami tidak hanya berkunjung untuk melihat situs sejarah. Kami datang untuk belajar tentang peradaban, tentang identitas bangsa, dan tentang bagaimana generasi muda harus mengambil peran dalam menjaga warisan yang telah ditinggalkan para pendahulu. Kehadiran Bang Firman Jaya Daeli memberikan perspektif yang sangat berharga tentang hubungan antara sejarah, hukum, demokrasi, dan masa depan Indonesia,” kata Rolan.

Dalam suasana diskusi yang hangat dan penuh refleksi, rombongan juga membahas pentingnya penguatan pendidikan sejarah, pelestarian cagar budaya, serta pembangunan daerah yang berbasis pada identitas dan kekuatan peradaban lokal.
Bagi PERMAHI Jambi, Candi Muaro Jambi bukan sekadar situs arkeologi. Lebih dari itu, kawasan tersebut merupakan simbol kejayaan intelektual, kebudayaan, dan peradaban yang harus menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda dalam membangun Indonesia yang berkeadaban, berkeadilan, dan berkemajuan.
“Dari Candi Muaro Jambi, kita belajar bahwa bangsa yang besar bukan bangsa yang melupakan sejarahnya, melainkan bangsa yang menjadikan sejarah sebagai fondasi untuk membangun masa depan,” tutup Rolan Pramudiansyah.
